Inilah Penjelasan Ilmiah Adanya Energi Prana

Artikel Penting » Inilah Penjelasan Ilmiah Adanya Energi Prana

Kajian ilmiah tentang adanya energi prana terus diteliti dan dibahas di beberapa perguruan yang ada. Baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Dalam perjalanan mengungkap keilmiahannya, energi prana tetap cantik dan menarik minat banyak peneliti.

Hingga beberapa teori mencoba disandingkan dan beberapa uji eksperimental begitu memukau hasilnya bahwa energi prana melampaui semua teori. Berbagai upaya yang telah dilakukan beberapa perguruan untuk mengaitkan energi prana dengan pendekatan teori-teori nampaknya masih perlu waktu yang panjang. Salah satunya teori medan Elektromagnetik (EM).

Teori medan EM ini menjelaskan adanya frekuensi amplitudo yang sesuai dengan intensitas energi yang diaktifkan. Sehingga, biasanya dengan energi prana yang digunakan dalam membela diri dapat mementalkan lawan.

Meskipun pendekatan teori EM ini adalah yang tertua yang pernah dipikirkan oleh manusia sejak dahulu kala. Sayangnya, teori yang juga digunakan pada beberapa perguruan di Indonesia untuk melihat ilmiahnya energi prana ini ternyata sampai saat ini masih tertinggal dengan canggihnya energi prana.

Hal ini terjadi, karena EM hanya bisa berlaku jika medan energi dapat diukur dan rambatan gelombangnya butuh jeda waktu. Sedangkan untuk energi prana sendiri tidak terbatas oleh adanya ruang dan waktu.

Selanjutnya, para pakar fisika berusaha mendekati dengan teori-teori mereka. Diantaranya, Stephen Wolfram dan Michio Kaku. Mereka mencoba dengan teori-teori yang mereka kembangkan dari riset Einstein. Stephen Wolfram dengan teori Automata selular dan Michio Kakudengan pendekatan perwakilan ruang Hyperspace.

Bahkan Kaku, melalui bukunya Hyperspace mampu menjelaskan lebih baik mengenai mekanisme tenaga prana. Teori ini mencoba meneruskan konsep Einstein mengenai teori tunggal yang di dalam ilmu fisika terkenal dengan sebutan A Theory of Everithing yang sampai sekarang belum benar-benar ditemukan.

Einstein sendiri membangun teori yang dapat menggabungkan empat gaya dasar yang berlaku dalam alam semesta (gravitasi, elektromagnetik, dua gaya nuklir, kuat dan lemah) ini harus menghabiskan waktu lebih dari 30 tahun.

Sebelumnya, Theodore Kaluza pada tahun 1921 yang meneruskan riset Einstein mengatakan bahwa riak pada dimensi ke “lima” dapat dilihat sebagai “cahaya”. Selanjutnya untuk menjawab dimensi yang lebih besar dari lima, Kaku menjelaskannya dengan teori yang disebut “superstring”.

Kaku, melalui supersting tersebut berhipotesis bahwa segala proses yang terjadi sehari-hari terutama energi prana dapat dijelaskan. Mengingat supersting memiliki dimensi lebih besar yakni 10 dimensi.

Namun, lagi-lagi energi prana tak sebatas cahaya yang tergabung dalam 10 dimensi tersebut. Meski ilmu fisika terus berus berkembang dan belakangan ini beragam konsep bermunculan dan tak hanya berhenti pada 10 demensi yang telah ditemukan Kaku tesebut.

Konsep aura, tenaga dalam, energi prana beserta metode penyembuhan dan segala aspek aplikasinya bisa dikuantifikasikan secara ilmiah jika A Theori of Everything telah ditemukan.

Namun beberapa uji eksperiment, data klinis, dan penelitian laborat mengenai energi prana seperti yang dilakukan dan diawasi oleh Healing Colsultancy Pvt, Ltd., 1.520, Oggiyam Thoraipakkam, Old Mahabalipuram Road, Chennai 600 096, Tamil Nadu, India membutikan bahwa energi prana terbukti lebih efektif dalam beberapa kasus penyembuhan penyakit jika dibandingkan dengan penyembuhan medis sekalipun.

Penelitian yang dilakukan Prof. Dr. A. Namashivayam, MBBS, MD, Ph. D., FAMS, dkk itu menggunakan binatang yang seratus persen menurut etika penelitian disetujui oleh berbagai pihak.

Penggunaan prana sebagai penyembuhan dalam penelitian tersebut mengungkapkan bahwa energi prana memiliki prinsip memulihkan diri sendiri dan mampu meningkatkan daya hidup.

Seperti pada contoh pengelolaan stress. Dalam eksperimen ini, tikus-tikus dibuat stress dengan cara memasukkan mereka ke dalam air yang bersuhu 10 derajad. Setelah diamati bahwa tikus-tikus dalam kelompok kontrol tenggelam setelah tiga menit, sedangkan mereka yang dirawat dengan Penyembuhan Prana mampu bertahan lebih dari tujuh menit dengan tenang tanpa mengalami stress apapun.

Selain itu, secara klinis tenaga prana lebih unggul dalam menangani kasus penyakit yang belum dapat di sembuhkan dalam dunia medis yang masih memiliki keterbatasan. Baik alat, ilmu pengetahuan, maupun SDM (sumber daya manusia).

Seperti pada penanganan kasus khusus seperti hilangnya indra penciuman dan perasa, menyembuhkan otak yang mengalami pengapuran, meregenerasi penyembuhan tulang belakang, dan beberapa kasus lainnya. Dengan energi prana dalam eksperimen tersebut ternyata terbukti bisa sembuh total dalam waktu yang singkat bahkan tanpa campur tangan medis sekalipun.

Hasil dari penelitian tersebut oleh tim periset (Sir Cliff Saldanha FRCP [MA], Mrs. Sushma Saldanha, Dr. D. Ramesh, MDS [OMFS], Mrs. Nalini Ramesh, M. Sc. [Zoology], dan Mr. Saravanan [Perawat binatang lab]), dan tim teknis (Mr. A. Pari, B. E., Mr. K. Maris, Dr. S. S. Sharma, M.D.S.) menyimpulkan bahwa: Penyembuhan Prana adalah alat luar biasa yang diberikan kepada umat manusia. Para peneliti selanjutnya, mengucapkan rasa syukur dan berterimakasih pada Grand Master Choa Kok Sui yang telah memberikan banyak ilmu tentang prana yang sangat bermanfaat bagi umat manusia.